Monday, February 23, 2009

KarAm

Terbangun linglung,
Ku dapati cinta berbuah kebencian,
Dipenuhi ratusan ribu nanar,
Akupun tenggelam dlm kesangsian akan hari depan.

Dalam kalap jiwa yg kau jebak,
Ku tata luka dan berdiri patahkan rasa,
Kenakan busana baru rajutan dendam,
Dan penuhi tangki-tangki doa dengan kutukan.

Tak ku lihat warna selain buram,
Setumpuk nilaipun sirnah di benam nafsu,
Sungguh, aku tertawan & karam,
Dalam lubang sempit bernama kekecewaan....

Dak, 02.09

Tuesday, February 17, 2009

JaLaN PuLanG

Pernak pernik sinar pelangi yang memancar dari setiap kata2mu, membuat tipuan picikmu kibaskan ragu...
Akupun terlempar dari gapura kesucian,
Terlilit ketat dosa dan berkobar hangus dalam pelukan iblis jiwamu,
Smua ragu terjawab dgn terlambat...,
Tinggalkan diri dlm kepungan gelap dan tak lagi tau jalan pulang....

......

Hanya karena Rahmat-NYA lah langit membiru’i rapuh hati...
Dalam beratnya beban kecewa, nafas terhembus ringan,
Kesadaran’pun berbisik lewat ketidaksadaran...
”terima kasih untuk kekecewaan & perih luka ini....”
... karena semua bukan hanya buka’kan mata butaku,
tapi juga tuntun aku menemukan jalan ”pulang”...”


Dak, 02.09

Monday, February 16, 2009

NoDa ZamaN

Tembok tebal bersekongkol dengan iblis tuk tutupi lebatnya perdu dosa,
Hingga para pendosa terbelenggu rantai maksiat dan tak lagi sanggup akui dosa.
Kehinaanpun lahirkan kehinaan....

Bintik-bintik noda zaman lemahkan nafas nurani,
Kedengkian adalah tameng yang terus menutupi keimanan.
Ah,... mungkinkah nafsu telah mampu mendikte hati kita
dan mengubah keindahan menjadi kehinaan...

Dak, 02.09

Monday, February 9, 2009

AkhiR

Kuncup dedaunan hijaui gersang savana hati,
Tiupan angin yg dipadu gerimis alunkan karya indah simpony alam,
Ratusan bias warna pelangi percantik senja hari ini.

Sempurna,...
Kubungkus dendam dengan kain kafan keikhlasan,
Dan menghanyutkannya dengan sisa air mata.
Satu kisahpun berakhir sudah.

Dak, 02.09

SePi

Tak ada warna di dalam mendung kecuali kelam,
Tiupan anginpun datar dingin menggigit.
Dalam kebisuan perang dari hati yang sama2 membatu
Akulah yang kau paksa mengalah,
Membayar lunas perbedaan dengan menahan tusukan2 kecewa.

Dibatas cakrawala awan hitam lahirkan rintik
Lenggang, akupun melenggang gamang dalam gerimis,
Dibalut luka diselimuti sunyi.
Ah,... ternyata sepi itu juga indah...

Dak, 02.09

KoPi

Sipenikmat kopi pejamkan mata,
hirup wangi aroma arabika,
Seteguk hitam meluncur lambat,
Hangatkan lorong2 rongga dada.
Bawa nyaman setiap tarikan berat nafas.

Khayalpun terbang tinggi, gapai maya lampaui nyata...
Sipenikmat kopi ciumi kebebasan imajinasi,
Yang terangkul dari setiap tegukan, aroma, dan rasa pekatnya kafein.

Dak, 02.09

Monday, February 2, 2009

RemBulaN SepoTonG

Sepotong rembulan menebar cahaya,
Berkilau sinari hati yang dimabuk luka & penyesalan,
Bias warnanya menyulam imajinasi resah,
Tapi ketakutan bentangkan sayap ragunya,
Lalu menjauh pergi bersama nyanyian kemenangan iblis.

Sepotong rembulan sinari rapuh kalbu,
Sucikan pijakan langkah,
Tuntun kaki dekati sang kekasih,
Tepiskan risau galau hati...

” Bukankah telah kami lapangkan dada mu ” ( QS 94 : 1 )


Dak. 02.02.09

SajaK sanG PenGhianaT

Sang penghianat tersenyum kantongi ribuan nafsu,
Dustanya mengalir banjiri gersang jiwa peragu,
Irama nafasnya ádalah tikaman belati,
Yang mengoyak tulus, hancurkan hati.

Sang penghianat bergetar nikmati kemenangan liar,
Mekarkan ratusan ribu kuntum nafsu,
Buahkan juta’an dosa dan penyesalan,
Membunuh mati jiwa para peragu buta.

………

Tapi,….
Sang penghianat lupa hukum keadilan-Nya,
Merasa mulia meski dibanjiri kutukan,
Sampai simalakama ranum terhidang untuknya,
Harumnya mantap menancap jiwa busuknya,
Ratapannya sehina tubuh dan otak kotornya.

Dak, 02.02.09